SMAN 1 Bendungan Jadi Pilot Project Kerja Sama Indonesia–Jepang dalam Penguatan Kesiapsiagaan Bencana di Lingkungan Pendidikan
TRENGGALEK, 21 Oktober 2026 – SMAN 1 Bendungan, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, menjadi lokasi percontohan (pilot project) kerja sama Indonesia dan Jepang dalam upaya penguatan kesiapsiagaan serta pengurangan risiko bencana di lingkungan satuan pendidikan. Program ini diharapkan menjadi model pengembangan Sekolah Aman Bencana yang nantinya dapat direplikasi dan diimbaskan ke berbagai lembaga pendidikan lainnya.
Kerja sama tersebut melibatkan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur, serta Tim Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) SMAN 1 Bendungan. Dari pihak Jepang, program ini melibatkan Ministry of Economy, Trade and Industry (METI) dan Association for Overseas Technical Cooperation and Sustainable Partnerships (AOTS).
Kunjungan Ketiga Perkuat Kolaborasi dan Tindak Lanjut Program
Pada Rabu, 21 Oktober 2026, dilaksanakan kunjungan ketiga dalam rangkaian kegiatan kerja sama Indonesia–Jepang di SMAN 1 Bendungan. Kunjungan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat koordinasi, mengevaluasi hasil identifikasi risiko bencana, serta menyelaraskan rencana tindak lanjut program kesiapsiagaan bencana di lingkungan sekolah.
Dalam kegiatan tersebut, tim memaparkan hasil survei lapangan yang sebelumnya telah dilaksanakan pada 5 Agustus 2026 di SMAN 1 Bendungan. Salah satu hasil penting dari survei tersebut adalah penyusunan peta bahaya (hazard map), yang menggambarkan potensi ancaman bencana di lingkungan sekolah dan kawasan sekitarnya.
Peta bahaya tersebut menjadi salah satu dasar dalam merencanakan langkah-langkah mitigasi, menentukan prioritas pengurangan risiko, serta mendukung pengembangan prosedur penyelamatan dan evakuasi warga sekolah apabila terjadi bencana.
Melalui pendekatan berbasis data dan kondisi nyata di lapangan, program ini diharapkan mampu menghasilkan sistem kesiapsiagaan bencana yang lebih terarah, terukur, dan sesuai dengan karakteristik wilayah SMAN 1 Bendungan.

Jepang Siapkan Program Pelatihan Instruktur
Salah satu agenda strategis dalam kerja sama ini adalah rencana pembentukan instruktur kesiapsiagaan bencana yang akan memperoleh pelatihan secara langsung di Jepang.
Melalui keterlibatan METI dan AOTS, calon instruktur direncanakan mengikuti program peningkatan kapasitas di Jepang dengan dukungan pembiayaan dari pihak Jepang. Program tersebut diharapkan dapat memperkuat kompetensi sumber daya manusia dalam pengelolaan risiko bencana, penerapan langkah-langkah mitigasi, serta pengembangan pendidikan kebencanaan di satuan pendidikan.
Para instruktur yang telah mengikuti pelatihan nantinya diharapkan berperan sebagai penggerak sekaligus fasilitator dalam menyebarluaskan pengetahuan, keterampilan, dan praktik baik kesiapsiagaan bencana kepada satuan pendidikan lainnya.
Dengan demikian, program ini tidak hanya berfokus pada pembangunan sistem kesiapsiagaan di satu sekolah, tetapi juga pada pembentukan sumber daya manusia yang mampu mendukung keberlanjutan program secara lebih luas.
Paparan Rencana Kerja Bersama
Selain penyampaian hasil survei dan peta bahaya, kunjungan ketiga ini juga diisi dengan pemaparan rencana kerja yang telah disepakati bersama antara Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, BPBD Provinsi Jawa Timur, dan Tim SPAB SMAN 1 Bendungan.
Rencana kerja tersebut menjadi landasan koordinasi dalam pelaksanaan program, mulai dari penguatan kapasitas sumber daya manusia, pemanfaatan hasil pemetaan bahaya, pengembangan kesiapsiagaan warga sekolah, hingga penyusunan model penerapan pendidikan kebencanaan yang dapat dikembangkan di sekolah lain.
Sinergi antara unsur pendidikan, lembaga penanggulangan bencana, dan mitra internasional menjadi bagian penting dalam memastikan bahwa program tidak berhenti pada kegiatan survei dan perencanaan, melainkan dapat ditindaklanjuti melalui langkah-langkah nyata yang berkesinambungan.
SMAN 1 Bendungan Diproyeksikan Menjadi Sekolah Percontohan
Penetapan SMAN 1 Bendungan sebagai lokasi pilot project menjadi peluang strategis dalam mengembangkan model satuan pendidikan yang tangguh menghadapi ancaman bencana.
Melalui program ini, sekolah diharapkan mampu mengintegrasikan pengetahuan kebencanaan ke dalam budaya sekolah, meningkatkan kesadaran seluruh warga sekolah terhadap potensi risiko, serta memperkuat kesiapan dalam menghadapi situasi darurat.
Pengalaman dan hasil pelaksanaan program di SMAN 1 Bendungan selanjutnya diharapkan dapat menjadi referensi bagi satuan pendidikan lainnya, khususnya di Jawa Timur, melalui kegiatan pengimbasan, pendampingan, dan pengembangan kapasitas secara berkelanjutan.

Menuju Pendidikan yang Aman, Tangguh, dan Berkelanjutan
Kerja sama Indonesia–Jepang ini menunjukkan pentingnya kolaborasi lintas lembaga dan lintas negara dalam membangun ketangguhan sektor pendidikan terhadap risiko bencana.
Melalui dukungan METI dan AOTS dari Jepang, serta kolaborasi Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, BPBD Jawa Timur, dan Tim SPAB SMAN 1 Bendungan, program ini diharapkan mampu menghasilkan model pendidikan kebencanaan yang aplikatif, berkelanjutan, dan dapat diterapkan secara lebih luas.
SMAN 1 Bendungan diharapkan tidak hanya menjadi lokasi percontohan, tetapi juga menjadi pusat pembelajaran dan pengimbasan praktik baik dalam mewujudkan satuan pendidikan yang aman, siap siaga, dan tangguh menghadapi bencana.


