
Delegasi METI Jepang, AOTS, dan BPBD Jawa Timur Kunjungi SMAN 1 Bendungan dalam Rangka Pilot Project SPAB
Bendungan, 3 Desember 2025 – Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang (Ministry of Economy, Trade and Industry/METI) bersama The Association for Overseas Technical Cooperation and Sustainable Partnerships (AOTS) serta BPBD Provinsi Jawa Timur melaksanakan kunjungan kerja ke SMA Negeri 1 Bendungan dalam rangka pilot project Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB).
Kunjungan ini merupakan bagian dari kerja sama internasional antara Jepang dan Indonesia untuk melihat secara langsung implementasi SPAB di Jawa Timur. Delegasi Jepang dipimpin oleh Shin Sakaguchi selaku Director International Affairs METI sekaligus Ketua Delegasi. Dari AOTS turut hadir perwakilan, salah satunya Yasuhiro Okuda , Direktur Pemasaran IMV . Total delegasi dari Jepang berisi sembilan orang .
SMAN 1 Bendungan dipilih sebagai lokasi pilot project SPAB karena dinilai aktif dan konsisten dalam upaya pengurangan risiko bencana di lingkungan sekolah. Sekolah ini telah membentuk Tim Siaga Bencana Sekolah (TSBS), menyusun dokumen kajian risiko bencana, serta secara rutin melaksanakan simulasi kebencanaan.
Rombongan kiriman diterima langsung oleh Kepala SMAN 1 Bendungan, Imam Irfai, ST, M.Pd. , bersama unsur Forkopimcam Bendungan , Tim Manajemen Sekolah, dan Tim Siaga Bencana Sekolah SMAN 1 Bendungan .
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, dilaksanakan Focus Group Discussion (FGD) yang diawali dengan pemaparan profil Tim Siaga Bencana Sekolah beserta program dan kegiatannya. Paparan disampaikan oleh Ketua TSBS SMAN 1 Bendungan, Sugeng Riadi, S.E.. Selanjutnya, delegasi melakukan pengamatan lapangan, peninjauan fasilitas sekolah, serta wawancara dengan warga sekolah guna memperoleh gambaran langsung terkait kesiapsiagaan bencana di satuan pendidikan.
Melalui kunjungan ini, diharapkan dapat memperkuat sinergi antara Indonesia dan Jepang dalam pengembangan sekolah aman bencana serta menjadi model penerapan SPAB yang dapat direplikasi di sekolah lain, khususnya di wilayah rawan bencana

